Senin, 9 April 2007, ketika hari menuju malam, api mengamuk di pasar Sorowako. Berpuluh-puluh kios pedagang kain dan pakaian, kelontong, buah-buahan, peralatan rumah tangga, daging dan ikan, juga kios-kios “cakar” alias cap karung (untuk menyebut sandang bekas pakai import yang dikemas dalam karung-karung besar), ludes menjadi abu.
Empat puluh satu hari kemudian, terpaut 100 meter arah timur area pasar yang terbakar, puluhan rumah dilalap api pada lepas tengah malam. Empat belas kepala keluarga kehilangan tempat tinggal dan puluhan lainnya kehilangan sumber nafkah. Banyak orang bilang, kebakaran hal biasa di Sorowako. “Setahun bisa dua, tiga kali ada kebakaran besar.” Rumah-rumah kayu yang berdesak, kompor-kompor berkapasitas besar, jaringan listrik yang sudah tua, kerap dituding jadi biangnya.

May 24, 2007 at 5:23 am
Woalah … tenan to ana kobongan maneh nang Sorowako.
Mesakake yo …. Onde mande….
Yuk ndang ngumpulke sumbangan yuk …!!!
June 23, 2007 at 2:19 am
Wah… kasian sorowako kobongan lagi..
Salam..
July 6, 2008 at 7:58 pm
Sorowako kota nan indah. .sy lhr dsana.tp udh lbh dr 5 thn sy gak mlhatnya.jgn biarkan sorowako hbs krna sijago merah!marilah kt slg mnjaga keamanan dan keutuhan kota trcinta ìni.miss u sorowako